Aku hanya tahu ini fatamorgana. Ku kecup tak berasa. Ku gapai takkan mampu kuraih. Ku tersenyum hanya merasa seperti gila.
Itu fatamorgana.
Aku sungguh tak mampu menghapus karena ia tak terlihat hanya dapatku hembus. Aku sudah serendah mungkin. Membuktikan arti besar kehadirannya tapi dia pergi. Menggoreskan darah yang ku rawat sejak lahir.
Itu fatamorgana.
Sulitku percaya bahwaku dalam merasa. Akankah kau tahu dentuman suaramu begitu menusuk. Aku menanti tanpa kau sadar. Aku berduka tanpa ku tampak. Aku bersandar tanpa ada sandaran. Titisan mataku keluar tapi kau tak mendengar. Saat itulah, aku menurunkan kadar gengsiku. Aku sanggup mengatakan aku yg salah. Aku sanggup mengatakan biarlah semua. Aku sanggup berdiri kita ku tahu yang mencintai sang putri.
Itu fatamorgana.
Aku mengerti sejauh apapun ku tuang, tak akan pernah tumpah karena wadah jiwaku siap merengkuhnya. Semua kurasa mati, bukan redup tapi sudah mati. Alangkah tak percayanya batinku ketika ku tau semua hanya omongkosong. Adilkah? Ketika aku menyukai sang raja seketika itu kau memakiku dengan kata yg kurasa tak pantas. Tapi ketika kau menyukai sang putri, aku hanya mengatakan 'tinggalkan aku, bahagiakan dia. Aku pun turut berbahagia." adilkan? Ayo jawab. Tak pernah ada sebersit untukku memakimu bahkan membencimu. Aku hanya pergi berlari bukan untuk melupakanmu tapi melupakan kita. Ku harap kau bahagia.
Semoga kau bukan hanya fatamorgana untuk ratumu kelak.
Terimakasih fatamorgana
No comments:
Post a Comment