Siang itu, Ia mengunjungi rumah Icha, hanya sekedar ingin melancongi rumahnya saja.Karena pada hari itu ia sedang ada proyek yang dekat rumah Icha. Ternyata disela pembicaraan, terdengar kekecewaannya yang terpancar, ya lagi-lagi karena Rio. Rio adalah pria yang teramat mengusik hati Kiran. Sebenci apapun Kiran dengannya, rasa sayangnya mengalahkan kebencian itu. Entah apa yang ada dipikiran Rio terhadap Kiran, padahal Kiran telah berusaha sebisanya untuk merendahkan keegoisaannya hanya untuk mengerti sosok Rio.
'Kiran, kamu kenapa?' tanya Icha
'bukankah sakit bila cinta yang kita jaga seperti ditarik ulur saja?' Kiran menanyainya balik.
'ya, tetapi tergantung bagaimana kita menyikapinya' jawab Icha lancar.
'terlalu sulit dan teramat susah aku ikhlas dengan apa yang dia beri untukku, tusukannya teramat sakit terhadap cintaku' balasnya dan wajahnya terlihat sendu.
'aku percaya kamu bisa mendapatkan yang lebih darinya, kamu cantik Kiran' Icha sedikit menenangkan emosinya.
'lihat status twitternya (jejaring sosial), apa yang bisa kamu tangkap dari kata-katanya itu?' tanyanya kembali.
'ya statusnya menunjukan dia ingin mengepakan sayapnya dengan wanita lain' jawab Icha jujur dan tak ia sembunyikan.
'itu juga yg aku tangkap dari kata-kata itu, tapi setega itukah dia menarik ulur cintaku, dan dia mencampakkanku padahal beberapa hari yang lalu dia mengatakan cinta denganku' jawabnya yang semakin galau.
'yasudah, relakan dia dan tutup semua tentangnya, jangan siksa dirimu lebih lanjut karena menunggunya' Icha lagi-lagi menenangkannya.
Tak lama ia pamit pulang dan Icha mengantarnya sampai depan rumahnya.
Keesokannya dia terlihat lesu dan aku mengetahui dirinya tidak ingin bertemu Rio bahkan bertegur sapa dengannya. Baginya semuanya sudah cukup. Ia hanya ingin berkelana sendiri tanpa bayang-bayang arjuna yang naif. Dan dia yakin ada cahaya indah yang akan datang menghampiri kehidupannya. Biarlah cintanya dan Rio harus berakhir di tetesan akhir air matanya untuk Rio. 'Pergilah dengan yang lain, biar aku sendiri. Cintamu bisa ku gantikan, dan aku mampu melaluinya tanpamu ' ucapnya dalam hati.
******
Sudah dua hari Kirana terlihat murung, menyendiri dan terpaku dengan keadaan ini. Bayang-bayang cinta yang kini sedang melilitnya membuatnya engga untuk menyapa mentari pagi hari ini. Otaknya selalu pintar merekam memori lalu saat iya mengetahui Rio dengan wanita lain. Kejam. Ya itulah yang dirasakan Kirana. Dia merasa dirinya tak ada dayanya, padahal hanya masalah cinta dan bukan masalah yang menjelimat di kehidupan remajanya kini tetapi Kirana tak mampu. Dan dia jujur dengan dirinya bahwa dia tidak mampu menyimpan luka ini.
'Tuhan bisakah kau menghilangkannya, aku tak mampu. Dan biarlah dia menari dengan yang lain tanpa penglihatanku. Jangan tampakkan dirinya dikehidupanku, karena ku yakin ini akan menjadi kelam' bisiknya dalam hati.
Kirana terlalu lelah menangis, menanti dan kecewa hanya untuk Rio. Andai saja Rio sebuah boneka yang rela di cabik-cabik olehnya. Andai saja Rio sehelai kapas yang lemah dan hanya bisa mengikuti angin.
Dan andai saja Rio seorang arjuna yang dapat mempertanggungjawabkan ucapan dan janjinya. Tapi semua tak khayal hanya pengandaian Kirana saja.
Senja kini Kirana mengunjungi dan mengadu kesahnya dengan sahabatnya, Rahma. Rahma adalah orang yang sangat dipercayainya untuk mendengar keluhnya. Baginya rahma adalah keluarga keduanya. Mereka berdua sangat dekat. Kirana menceritakan semua aspek yang dialaminya, dengan bersedih dan disela pembicaraannya, ia meneteskan air mata.
'biarkanlah Ran, dia pergi. Buang jauh tentangnya. Jangan kau ungkit dan ingat tentangnya. Ingat, ia hanya masa lalumu' kata Rahma menasehati sahabatnya itu.
'aku akan mencobanya' jawab Kiran lesu.
'kita boleh menoleh ke belakang tapi kita tidak perlu menengoknya terlalu lama. Kita hanya boleh menoleh Kiran' nasehatnya lagi.
'kata-katamu bijak, terima kasih. Bantu aku menghilangkannya' jawab kiran tersenyum.
'bukan menghilangkannya dari hidupmu tapi menghilangkan perasaanmu terhadapnya' Rahma menyambung ucapannya.
Kiran hanya tersenyum dan sesekali menghapus air matanya.
'sudah malam Ran, aku sudah ngantuk' ucap Rahma dan ia langsung bergegas tidur. Malam ini Kiran memang bermalam dirumah Rahma karena ia butuh teman saat ini. Rahma pun dengan senang hati menerima Kiran.
Setelah Rahma tertidur, Kiran tak kurun untuk tidur. Matanya masih saja sesegar siang tadi saat ia baru mengunjungi rumah Rahma.
Kiran mulai membosan karena matanya yang tak bisa di ajak berkerjasama. Ia langsung mengambil sehelai kertas bindernya dan ada sesuatu yang ingin ia tulis.
'doc: senin,27des10.
Tuhan, sampaikan salamku padanya. Sampaikan kekecewaanku terhadapnya. Dan sampaikanlah rasa terima kasihku padanya atas perlakuannya.
Tuhan sampai saat ini aku masih menyayanginya, entah sampai kapan akan berhenti perasaan ini. titip dan jaga dia baik-baik. Semoga dia bahagia dengan jalan hidupnya walaupun bukan ditakdirkan denganku' lagi-lagi Kiran meneteskan airmatanya. Dan tak lama ia tertidur dengan perasaan yang lebih ringan.
*****
Terlihat Kirana yang tertidur dengan gelisahnya. Dia sudah berusaha tidak memikirkan Rio. Tiba-tiba Kirana terbangun, dia bermimpi. Ya bermimpi. Mimpi tentang Rio, sang arjuna naif menurut Kiran. Mimpinya begitu menyakitkan dan menggores sampai ubun-ubun tulang sumsumnya. Mimpi yang sebenarnya tak ingin ia temui. 'ya Tuhan, apakah semua penyiksaan ini belum cukup? Aku tak ingin memikirkannya' ucap Kiran dalam hati dan dia menangis, tak kuasa menahan tusukan diulu hatinya.
Rahma yang sedang tertidur menjadi terbangun karena mendengar isak tangis sahabatnya itu.
'kamu kenapa Kirana?' tanyanya dan tampak khawatir diwajahnya.
'Rahma, aku bermimpi tentang Rio. Rio berpelukan bersama Tari didepan mataku. Ini menusukku, Rahma' nangisnya semakin menjadi. Rahma yang tak kuasa melihat sahabatnya menangis, langsung memeluk tubuh lesu Kiran.
'Ran, semua itu hanya mimpi. Mimpi adalah kembang tidur. Tak usah dipikirkan' rahma menengangkan sahabatnya.
'usap air matamu, Ran atau bergegaslah kekamar mandi untuk mencuci wajahmu, aku akan mengambilkanmu minum' perintah halusnya untuk Kiran.
'terima kasih Rahma' Kiran langsung menuju kamar mandi seperti yang dianjurkan Rahma.
Tak lama kemudian, Kiran datang dan disambut dengan segelas air putih dari Rahma.
'minumlah ini untuk sedikit menengkanmu, lalu kita tidur kembali. Sudah pukul 1 pagi' kata Rahma sembari memberi minum kepada Kiran.
'iya Rahma, maaf mengganggu tidurmu' ada rasa bersalah diwajah gadis cantik ini.
'yasudah, ayo kita tidur, selamat tidur, Ran' Rahma langsung tertidur dan tak lupa mematikan lampu kamarnya.
***
Dilain tempat, terlihat Rio yang sedang mengendarai Satrianya. Jam 1 dini hari, dia masih saja berkelana dijalan. Mengendari motornya dan dengan cepatnya melajukan motornya. Rio akhir-akhir ini sedang sibuk dengan proyek barunya. Proyek mengedit film-film pendek, karena sekarang dia senang menggeluti pekerjaan sebagai seorang editor film pendek. Ya walaupun baru memproduksi film pendek.
Satrianya melaju semakin cepat. Wajahnya tampak lelah. Tak lama ia sampai di istana mungilnya. Tampak sepi keadaan rumahnya, mungkin semua anggota keluarganya sudah tertidur. Untung ia mempunyai duplikat semua kunci pintu rumahnya jadi ia tidak perlu membangunkan orang rumahnya.
Rio bergegas menuju kamarnya, merapihkan barang bawaannya dan kemudian membersihkan tubuh yang seharian tadi terkena trik matahari. Usai membersihkan tubuhnya, ia merebahkan tubuhnya. Ia sangat lelah tetapi matanya tak juga mampu untuk terlelap. Ada yang sedang ia pikirkan. Ya Kiran. Kiran berhasil mengusik hidupnya serta pikirannya.
'Kiran, seandainya kamu tau dan mengerti dengan semua keadaanku kini' ucapnya dalam hati. Ia mengkhayalkan pikirannya disaat ia bersama kiran.
'Ran, taukah kamu, saat hari itu kita bertemu, mataku tak lepas dari pandanganku melihatmu. Ran, taukah kamu aku menyesali keadaan ini dan menyesali sikapku yang dingin sehingga membuatmu pergi dariku. Ran, taukah kamu aku pun juga terluka, tetapi aku tak ingin menampakkannya didepan orang banyak. Ran, taukah kamu aku ingin memilikimu lagi tapi aku takut sikapku akan melukaimu lagi. Ran, taukah kamu bahwa aku masih menyimpan barang-barang darimu. Ran, taukah kamu aku menggenakan topi yang kita beri bersama saat aku bertemumu kemarin, apakah kau melihatnya? Ran, taukah kamu bahwa hanya kamu yang mampu membuatku seperti ini. Ran, biarlah aku mencintaimu dengan caraku sendiri tanpa ada siapapun yang tau tentang kehidupanku. Maafkan aku Kirana Putri' itulah ungkapan perasaan Rio yang selama ini dipendamnya. Hanya lewat tulisan kecil ini ia dapat mengungkapkan perasaannya terhadap Kirana, walaupun tulisannya hanya dia dan Tuhan yang tau. Karena begitulah Rio yang selalu tertutup disegala kesempatan. Tapi yang iya yakini, bahwa Kiran merasakan yang sama. 'biarlah perasaan ini ku simpan untukmu walaupun aku dengan yang lain nantinya' ucapnya lagi dalam hati. Dan ia bergegas untuk tidur.
******
Pagi ini terlihat Rahma sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah.
Ini sebuah rekor, biasanya Rahma tak pernah mendahului Kirana untuk urusan bangun pagi tp kali ini berbeda. Justru Rahma lah yang bergegas untuk membangunkan Kirana.
'Ran, bangun. Udah jam 9. Aku ada jam kuliah pagi ini' ucap Rahma sembari menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu.
Kirana sedikit-sedikit membuka matanya yang terlihat sembab akibat tangisannya semalam.
'Woy, Ran. Bangun dooong. Yaudah aku berangkat ya. Kalo kamu mau makan ada dimeja makan tuh, ntar juga aku pulang. Cuma satu mata kuliah doang ko aku hari ini' Rahma tampak terburu-buru, karena ia ada kuliah jam 10.
'Rahma, tunggu' tiba-tiba Kiran memanggilnya.
'ada apa Ran? Aku mau kuliah ni' Rahma sedikit kesal kemudian menghampiri Kiran. Ya Allah Ran, ko muka kamu pucet sih? Rahma langsung khawatir dan memegang tubuh sahabatnya itu. 'badan kamu panas Ran' Rahma lebih khawatir kelihatannya.
'aku pusing sekali, Ma' ngeluh Kiran kepada Rahma.
'kamu kayanya demam, lagian si kamu akhir-akhir ini terlalu sering begadang. Dan lebih tepatnya begadang untuk memikirkan Rio' ucap Rahma. 'aku akan membawakanmu sarapan, nanti kau langsung minum obat demam, kebetulan masih ada dikotak p3k ku' sambung Rahma.
Kirana hanya bisa terdiam, karena pusingnya teramat sakit. Ia hanya mendengarkan ocehan sahabatnya itu tanpa ada niat untuk membalas ucapan sahabatnya.
Setelah beberapa menit, tak lama Rahma datang membawakan sarapan pagi beserta obat untuk sahabatnya.
'Rahma, aku sangat mencintai Rio' ucap Kirana pelan.
'aku mengerti. Sudahlah Ran jangan kamu terlalu memikirkannya. Ayo sekarang kamu sarapan dan langsung kamu minum obatnya' sahut Rahma dan langsung menyuruh Kiran menyantap sarapannya.
'Ran, aku tidak jadi kuliah' kata Rahma seperti membisik.
Kiran yang sedang menyantap sarapannya tiba-tiba berhenti.
'kenapa kamu tidak kuliah, bukannya tadi kamu buru-buru mau pergi?' tanya Kiran.
'tadi temanku bilang hari ini dosennya tidak jadi datang' kata Rahma berbohong. 'maafkan aku Kiran, aku tidak ingin meninggalmu dikondisimu yang tidak memungkinkan untuk ditinggal. Aku tau kamu membutuhkan teman untuk berbagi' ucap Rahma dalam hatinya.
'jangan bohongi aku, Ma. Lebih baik aku sekarang pulang. Aku tidak ingin merepotkanmu terlalu jauh' Kirana merasa tak enak hati.
'bener, Kiran. Suwer deh' Rahma menyakinkan kiran dengan ucapannya sembari mengangkat jari tangannya dan membentuk huruf V, yang mengartikan dia bersumpah.
'oke, baiklah kalau gitu' ucap Kiran datar dan ia melanjutkan menyantap sarapannya kemudian meminum obat yang diberikan Rahma.
Setelah itu semua, mereka berbincang membicarakan segala aspek yang ingin mereka bicarakan selayaknya sahabat-sahabat lainnya. Selagi mereka berbincang ria, telepon genggam milik Kiran berbunyi tanda sms masuk. Kirana membuka inbox miliknya.
" Kiran, aku kangen banget sama kamu!!!!" kiran membacanya dan tak lama meneteskan airmata.
Jantungnya berdetak kencang. Jantungnya seperti tercabik.
Jantungnya tak kuasa menahan gejolak amarahnya. Ia semakin terisak. Rahma yang melihat sahabatnya menangis langsung menanyai apa yang sebenarnya terjadi.
'ada apa Ran?' tanyanya.
Kirana hanya memberi telepon genggamnya, mengisyaratkan kepada Rahma untuk membaca sms yang baru saja dikirim Rio. Rahma kaget dan sangat kecewa dengan tindakan Rio. Rahma tau ini akan menyakitkan Kiran, terlalu sering Rio menarik ulur keadaan hati Kirana. 'belum puaskah kau Rio menyakiti Kiran' ucap Rahma dalam hati.
'Rahma, dia mengulanginya kembali. Aku kecewa dengan sikapnya. Aku memang masih sangat mencintainya. Tak sedikitpun aku bahagia dengan caranya memperlakukanku' Tangisan kirana menjadi-jadi.
'rio kau menghancurkan hati sahabatku' ucap rahma lagi didalam hatinya.
'sudahlah Ran, anggap ini semua hanya angin lalu. Ini hanya menyiksamu. Sudahlah, kasian pikiranmu yang selalu kau paksakan untuk memikirkan rio. Kasian badanmu juga, lihatlah. Apa kamu tega melihat tubuhmu tersiksa hanya untuk seorang rio. Please, jauhi rio untuk kebaikanmu' nasihat rahma untuk kiran. Kiran masih saja mencucurkan air matanya. 'hapus air matamu ran!' ucap rahma mempertegas ketidak sukaannya dengan sikap rio.
'aku ingin pulang, ma' pinta kiran kepada rahma.
'baiklah, aku akan mengantarmu. Sesampai dirumah kamu harus mengistirahatkan pikiran dan tubuhmu' terlihat khawatir diwajah gadis manis ini.
'iya rahma, sahabatku yang cantik tapi cerewet' kirana menanggapi ucapan sahabatnya dengan candaannya yang terdengar agak garing tapi itu sudah membuat lengkungan senyum diwajah kiran.
'cantiknya si enak di denger ran tp cerewetnya itu ga asik ah' rahma menimpali candaan sahabatnya, mereka pun tertawa bersama. 'ayo Ran, katanya mau pulang, heem tapi keadaanmu sudah membaik belum?' ucap rahma.
'ayo-ayo, aku beresin barang bawaanku dulu ya, tenang saja panasnya sudah lebih turun dan sudah tidak terlalu pusing. Mungkin karena efek obatnya yang sedang berkerja' kata kirana memjelaskan keadaannya yang tampak lebih membaik.
Rahma tersenyum, sepertinya sahabatnya sudah bisa menetralkan perasaannya walaupun hanya beberapa saja. Meskipun tak dipungkiri kiran masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa tentang keadaan dirinya yang sebenarnya sangat sakit diposisi ini.
*****
Dua hari kemudian, kondisi Kirana membaik. Seperti biasa ia selalu mengerjakan aktivitasnya. Hari ini ia sedang mengunjungi perpustakaan kampusnya. Dia memang sedang sibuk mencari referensi dari buku-buku untuk membuat makalah yang harus diselesaikan minggu-minggu ini. Kiran terlihat sangat repot. Disana ia memilah-milah buku yang pas untuk karya tulisnya. Setelah 2jam berkutik dengan buku-buku di perpustakaan, akhirnya ia mendapatkan buku yang ia cari 'half full-half empty' buku yang mengisahkan banyak kisah-kisah yang dapat memotivasi kehidupan kita. Ia mencoba mereferensikan buku tersebut untuk bahan pembuatan makalahnya. Ia meminjam bukunya dan tak lupa mendatangi penjaga perpustakaan untuk bukti bahwa ia telah meminjam buku itu.
Ia keluar dari perpustakaan dan mempunyai niat untuk bersantai-santai di resto yang biasa ia kunjungi. Di tempat makan ia bisa lebih sedikit menenangkan pikirannya walaupun disana ia hanya memesan coffee dan tiramisu cake. Tapi untuk kali ini, ia memesan satu porsi nasi goreng kambing beserta es kelapa muda. Ini cukup mengenyangkannya di sore hari ini. Ia menyantap dengan santainya. Dia tidak terlalu terburu-buru karena ia memang ingin menghabiskan waktunya untuk menyendiri di resto ini. Selagi ia mengunyah makanannya, terdengar suara telepon genggamnya dibalik saku blezer cokelatnya. ' siapa yah?' katanya dalam hati. Dia sedikit bingung karena nomor tersebut sangat asing dan tidak tertera di kontak teleponnya. Kiran mengangkatnya, terdengar suara lelaki di speaker telepon genggam kiran.
'hallo kiran, aku rio. Kunjungi aku di taman layang-layang, tempat biasa kita. Ada yang ingin aku sampaikan. Sekarang, please' tut tut tut telepon mati tanpa kiran berbicara sepatah kata pun. Jantung kiran berdebar. Apa yang ingin dikatakan rio? Pertanyaan itu yang melayang dan menari di otaknya. Kiran bingung apakah ia harus mendatangi rio apa mengacuhkannya? Lagi-lagi rio mengganggu pikirannya, ia pun tak selera untuk menyantap nasi goreng kambing kegemarannya itu. Pikirannya terfokuskan hanya kepada Rio. 'tuhan apa aku harus menemuinya? Sejujurnya aku pun ingin bertemu tetapi aku tak mampu melihatnya karena luka yang ia beri teramat dalam. Tuhan harus kemana langkahku?' kirana terdiam dengan tatapan sendu. Batinnya menangis. Haruskah ia menghubungi Rahma dan meminta tanggapannya tentang ajakan rio tadi. Haruskah ia terus menerus merepotkan rahma dengan masalah kecil dihidupnya. Haruskah ia meminta rahma untuk menemaninya menemui rio. Ia rasa tidak. Terlalu sering ia merepotkan rahma. Mulai sekarang ia ingin mandiri dengan masalahnya. Akan melakukan sesuatu sesuai hati nuraninya.
Seperti kini, dia berdiri dan langsung membayar santapannya tadi. Tak lama kirana bergegas menuju vario nya. Menyalahkan motor pink nya itu lalu berjalan menuju taman layang-layang untuk menemui rio. Semoga keputusannya tidak salah untuk menemui rio. Ini kata hatinya. Tetapi yang jelas kiran telah memberanikan hatinya untuk bertemu rio walaupun seperti teriris.
*****
Kirana mengendarai vario pink-nya dengan perasaannya yang tak menentu. Pikirannya masih terfokuskan untuk seorang laki-laki bernama rio. Penasaran yang sekarang berkecambah dibenak dirinya. Kira-kira apa yang akan dibicarakan rio? Apakah rio mau mengatakan bahwa dirinya sudah bersama Tari dan menganjurkan kiran untuk tidak mengharapkan cintanya lagi. Apakah rio mau mengatakan bahwa dia lebih memilih Tari dibanding kiran. Atau apakah rio mau mengatakan bahwa karin harus pergi jauh dari hidupnya. Segala aspek pertanyaan tentang rio selalu menghantui pikiran kiran yang saat kini tidak fokus karena rio. Hampir saja kiran menabrak trotoar karena dia tidak bisa mengontrol pikiran dan emosinya. Seketika kirana menangis di tepi jalan, menangis seorang diri. Menyesalkan keadaan yang dialaminya. Ingin ia menjerit sekuat-kuatnya agar pikirannya lebih tenang. Kirana sadar dirinya kini melemah. Dia terlalu lelah. Tepatnya lelah menangisi rio. Kirana menetralkan perasaannya karena ia harus melanjutkan perjalanan menuju taman layang-layang. Setelah beberapa menit kiran mengistirahatkan pikirannya, ia langsung melajukan varionya dengan kecepatan sedang.
Tak lama kirana sampai di taman layang-layang tempat rio sekarang menunggunya. Kirana memarkir motornya dan langsung mencari sesosok lelaki yang membuatnya gelisah. Rio tidak tampak dan batang hidungnya pun tak terlihat.
Kirana mencarinya disemua tempat biasa ia bersama dengan Rio. Tapi hasilnya nihil. Rio tidak ada. Ia kecewa. Rasanya mau berlari dan menjerit. 'teganya kau rio' hatinya berkata. Ia terisak dan berlari mencari tempat persembunyian yang tepat. Akhirnya ia memilih duduk didepan danau. Menangisi kebodohannya. Apa gunanya iya meluangkan waktu untuk bertemu rio tetapi orang yang ditemuinya tidak terlihat wujudnya. Kirana menangis dengan sesaknya dengan mata yang tertuju dalam ketenangan air danau.
'rio, sebegitukah kau memainkan perasaanku? Rio tak cukup penyiksaan yang kau tusuk diulu hatiku terdalam? Rio, tak cukupkah langkah ini ku bela hanya untuk menatapmu? Rio, tak lelahkah kau menarik ulur keadaan? Rio, tak lelahkah kau melihatku terluka? Rio cukup. Ku rasa ini sudah cukup. Riooooo, untuk apa kau memintaku menemuimu? Kejamnya engkau rio. Aku lelah menangisimu' ucap kiran seolah-olah ia sedang berbicara dengan rio. 'rio, sudah begitu banyak cara untukku bisa menghilangkan perasaanku terhadapmu, tapi perasaan ini teramat jahat karena kau selalu menghantui setiap langkah yang ku pijakkan. RIOOO' kirana teriak sejadi-jadinya dengan suara yang terisak. Tak lama keadaan langit memendung, hujan pun turun bersama turunnya air mata kiran. Kiran tidak mencari tempat untuknya berteduh, ia masih tetap menatap danau itu yang tak setenang tadi. Inilah waktunya ia menangis dengan kerasnya karena mungkin tidak akan ada yang mendengar isak tangisnya. 'Rio, kamu dimana?' suaranya melemah. Dia pasrah. Tubuhnya menggigil. 'rio, rio, rio kamu dimana?' suaranya tampak lelah berbicara.
Tiba-tiba sesosok makhluk yang sedari tadi ditunggu oleh kiran datang juga. Ya Rio datang membawakan kiran payung dan jaket tebal walaupun tubuhnya sudah basah tapi ia tidak memikirkan keadaannya. Ia hanya memikirkan gadis cantik yang ada disebelahnya kini.
'Kamu konyol sekali kiran, menyiksa dirimu di derasnya hujan' ucap rio tanpa melihat kiran.
Kiran hanya terdiam dan beranjak pergi meninggalkan rio. 'aku tidak butuh payung dan jaketmu, terimakasih' kirana membalikan badan dan pergi meninggalkan rio, seakan tidak sanggup menerima perkataan rio nanti.
'tunggu Kiran' panggil rio sembari memegang tangan kanan kiran, seakan tak ingin kiran meninggalkannya sendiri di derasnya hujan.
'lepas!' kiran meminta rio melepaskan tangannya. 'apa lagi yang harus kita bicarakan? Kini aku sadar aku terlalu bodoh' kiran berlalu dan menangis, untung sekarang hujan begitu deras sehingga air matanya tidak terlalu tampak. Rio tak hanya diam, ia mengejar kiran.
'kiran, tunggu' rio berlari dan ya dia berhasil menarik tangan kiran. Sangat berlebihan rio menarik tangan kiran, sehingga membuat tubuh kiran ikut terbawa. Alhasil, mereka berpelukan. Kiran menangis lagi. 'inikah tubuh hangatmu rio, benarkah?' ucapnya dalam hati. Dengan cepatnya kiran langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan rio. Dia berhasil keluar dari pelukan rio, tetapi tangan kiran masih digenggam. Seakan rio tak ingin kiran pergi lagi.
'Ada yang ingin aku bicarakan tapi tidak disini. Kamu harus menghangatkan tubuhmu. Wajahmu tampak pucat. Ayo ikut aku' rio menggandeng kiran dan mengarah kearah dusun tempat yang biasa mereka datangi.
'lepas tanganku, aku bisa berjalan tanpa gandenganmu!' ucap tegas kiran. Rio melepaskan tangan kiran perlahan walaupun sebenarnya ia ingin menggenggamnya lebih lama.
*****
Rio dan Kirana sudah berada di dusun. Rio memberikan kirana handuk kecil untuk mengeringkan rambut indah gadis ini.
'pakailah ran jaket ini, untuk menghangatkanmu' rio memohon dengan wajah khawatir.
'tidak perlu, terimakasih' kirana acuh.
'maafkan aku ran yang telah membuatmu mengunggu terlalu lama' ada wajah penyesalan yang tampak didirinya.
'aku tidak menunggumu' jawab kiran kembali acuh.
'baiklah. Kamu apa kabar? Kuliahmu bagaimana?' tanya rio.
'tidak perlu basa-basi, to the point aja apa yang ingin kamu bicarakan' kirana semakin mempertegas keadaan.
'aku kangen kamu ran' rio tersedu.
'bukankah kita sudah berakhir?' ucap kiran.
'iya memang sudah berakhir. Semua itu kebodohanku'
'sudahlah memang penyesalan yang akan terus ada. Kemana saja kamu ketika dahulu aku membutuhkanmu? Aku telah berusaha memahami semua aspek didirimu tapi apa yang kau beri, semua hanya sesak didada' kirana menangis kembali. Rio hanya terdiam meratapi kesalahannya. 'rio tau kah kamu, perasaan macam apa yg berkecambah dibenakku pada saat kau mengacuhkanku? Aku berusaha menghubungimu dengan caraku' isaknya semakin menjadi. Rio memeluk tubuh indah kiran.
'maafkan aku kiran' raut wajahnya sangat sedih tapi tidak ditampakkan didepan kirana. Kiran melepaskan pelukan rio.
'rio abdi pratama, ingat kah kamu beratus-ratus jam yang lalu saat kita masih bergandengan merajut sebuah hubungan, kau pamit untuk pergi keluar kota beberapa minggu karena proyek film pendek yang kau miliki. Aku bahagia saat itu karena impianmu untuk memproduksi film akan mendapatkan loncatan besar untuk kariermu kelak. Tiga minggu kau pergi dan selama itu juga kau tidak menghubungiku. Tapi aku memaklumi, yang aku pikirkan kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku sabar menunggu tentangmu, walaupun aku khawatir' kiran berhenti sebentar untuk mengambil nafas panjang karena mungkin tekanan dibatinnya meningkat. 'dan kau tau, kau berubah semenjak kau mendapatkan proyek dan hasil uang pekerjaanmu. Rio, taukah kamu aku sangat bahagia ketika aku tau kamu akan pulang walaupun aku mengetahui akan hal itu bukan dari mulutmu. Setelah aku mendapat kabar kau sudah berada dijakarta, aku berharap kau langsung menghubungiku tapi hasilnya nihil. Aku terlalu berharap. Beberapa jam berlalu, aku tak berani menghubungimu terlalu cepat karena mungkin kau lelah karena pekerjaanmu itu. Tapi selama 2 minggu setelah kepulanganmu, kau tak kunjung menghubungiku. Aku beranikan diri menghubungimu terlebih dahulu. Aku mengirim pesan singkat di ponselmu tapi kau tak membalasnya. Aku teleponmu, kau pun tak menghiraukan teleponku. Aku masih bersabar menunggu kabarmu, mungkin detak jantungku pun masih sanggup bersabar. Tapi lama-kelamaan perasaanku seperti ingin meledak dasyatnya. Aku menghubungimu terus menerus, bahkan pernah suatu ketika kau reject telepon dariku. Akhirnya, aku tak mampu, dan aku menemuimu di tempat parkir kampus, dan disana aku meminta putus padamu. Pada saat itu kamu tau, aku menurunkan kadar gengsiku untuk menghampirimu. Tapi kau tau apa yang terjadi, kau tak ingin kita putus. Dan aku mengaminkan permintaanmu tapi dengan syarat kau harus merubah sikap seperti kemarin. Dan kau pun sepakat memenuhi perjanjian itu. Beberapa hari kau menunjukkan perubahanmu didepanku walaupun tak seindah dulu, tapi itu lebih baik. Aku senang dibuatmu saat itu. Namun itu hanya sesaat, kau mengulangi perbuatanmu kembali. Saat itu emosiku memuncak, aku tak sanggup lagi. Aku merasa dipermainkan saat itu' kiran mengambil nafas sejenak sembari menghapus air matanya. 'aku menghubungimu kembali tapi tak ada jawaban, akhirnya jalan satu-satunya yang aku lakukan aku mengirimmu sebuah memo kecil yang aku titipkan lewat pembantu rumahmu. Aku masih ingat isi memo yang ku berikan padamu' kiran terdiam, kemudian melanjutkan kembali 'di memo itu aku meminta kau mengakhiri hubungan kita. Sedemikian itu aku menghubungimu, mungkin kau terlalu sibuk dan aku hanya pengganggumu. Setelah keesokkan harinya, ponselku berdering dan ternyata kau mengirim pesan singkat. "yaudah kita berakhir disini" hanya kata itu yang kau kirim untukku, aku membalasnya untuk mengatakan terimakasih telah memberikan pelajaran yang sangat berharga, tapi kau tak membalas smsku lagi. Oke saat itu aku merasa sudah berakhir walaupn aku merasa sangat amat tertekan dan belum bisa menerima keadaan ini' kiran menangis dan tak mampu untuk berkata lagi, rio memegang tangan kiran, dan menggenggamnya dengan tulus. 'aaakkuu... Akku keee' kiran tak kuat berkata, dadanya teramat sesak. 'ke..ce...wa ppaa..damu.., r..io' kiran melanjutkan ucapan yang tadi terpotong.
Rio hanya terdiam dan mengelus bukung tangan mantan kekasihnya itu. 'maafkan aku ran' ucap rio dalam hati.
*****
Hari mulai gelap, udara pun semakin dingin merasuki tubuh. Angin sepay-sepoy dengan riangnya. Pepohonan seperti sedang mengalunkan irama untuk menari. Bulan yang mampu menyapa keheningan malam. Di dusun itu masih terlihat seorang gadis dan pria sedang duduk. Kirana dan rio masih saja terdiam dan tak ada yang memulai pembicaraan lagi, setelah kiran meluapkan isi perasaannya. Rio sedari tadi menunduk tak berani menatap kiran. Sedangkan kiran masih meneteskan air matanya. Mereka terdiam, seperti orang asing yang tak pernah bertemu.
Dikeheningan malam, terdengar suara laki-laki yang teramat lembut perkataannya. 'kiran, maukah kau memaafkanku?' rio masih menunduk, kiran pun hanya terdiam seakan tak mendengar pria disebelahnya bertanya. 'ran, seburuk itukah aku dihadapmu ran?' kini giliran rio yang angkat bicara. 'ran, aku sangat menyesali semua keadaan ini, aku juga terluka. Ran, bukan karena aku mendapatkan job besar dan dengan uang yang cukup besar aku mengacuhkanmu. Ran pada saat aku diluar kota pun aku ingin sekali menghubungimu tapi pekerjaan yang menuntutku melakukan sedemikian itu padamu. Ran, maafkan aku yang tak mampu mewujudkan semua inginmu. Ran, bukan maksudku ingin mereject teleponmu tapi aku tak bisa berkata, aku gugup. Ran, tau kah kamu saat kau meminta untuk mengakhiri hubungan kita, aku tergeletak sakit, dan aku dirawat dirumah sakit. Dan aku tidak menyuruh siapapun untuk memberitahukanmu. bukan aku tak ingin membalas smsmu, tapi kondisiku saat itu sangat lemah. Aku tak sanggup harus putus denganmu ran. Seandainya saat itu aku mempunyai kesempatan untuk mencegah inginmu, aku pasti akan mencegahnya seperti saat kau menghampiriku di parkiran kampus. Ran, aku memang tak pantas untuk menghiasi kehidupanmu karena sikapku yang menentang itu. Ran, aku tak ingin menyakitimu terlalu jauh. Aku menyadari dunia kita sangat berbeda tapi aku ingin kita seiring sejalan. Ran, terucap syukur pada tuhan yang telah mempertemukan aku denganmu. Alangkah senangnya aku bisa memilikimu walaupun hanya sesaat' rio berjalan keluar dusun, dan melanjutkan pembicaraannya. 'ran, ku mohon kau jangan menangis lagi karena itu semakin menyiksaku. Ran, sampai saat ini aku belum bisa menahtakan orang lain dihatiku selain kau seorang, hanya kau yang mampu menggugah singgasana hatiku. Ran, tersenyumlah padaku, berikan lengkungan indah itu ran' terlihat raut wajah rio yang memohon. 'ran, sebenarnya langkah ini ingin sekali aku jalankan untuk bertemu denganmu tapi detak jantungku tak mampu bertahan menatapmu. Aku percaya, kau bisa merasakan apa yang sebenarnya aku rasakan, lihat mataku ran, lihat apa yang ku mau tapi batinku tak sanggup ran. Aku ingin sekali menjagamu disemua waktu yang ku miliki. Kau mendengar apa yang kurasa ran? Kau mendengarnya? Jangan menangis ran, karena itu akan menyiksaku' rio tak mampu, ia menangis dan baru dihadapan kiran ia menangis. Rio terliat cengeng saat itu. Rio menghapus air matanya 'aku ingin sekali memilikimu kembali tapi aku tak ingin menyalahkan takdir' rio menghampiri kiran dan membawanya keluar dusun.
'jadi apa alasanmu mengiyakan kemauanku untuk mengakhiri hubungan kita? Tanya kiran.
'karena aku takut kau akan terluka semakin jauh karena mungkin kau tak mampu mengimbangi sifatku. Aku tak mau melihatmu terus terluka.
'alasanmu tidak logis, jujur padaku apa yang kau sembunyikan' kiran tak mempercayai rio.
'baiklah, ketika aku berada di luar kota, aku mengalami gangguan diotakku. Aku tidak bisa berfikir terlalu jauh, ada penyempitan di otakku. Aku bukan mengacuhkanmu tapi waktuku habis untuk perawatan. Aku menyembunyikan ini darimu. Sungguh sebenarnya aku ingin berdua denganmu lagi. Tapi pada saat itu memori diotakku harus ku istirahatkan. Maafkan aku ran. aku tidak ingin terlihat lemah dihadapmu, jadi inilah yang aku lakukan untuk menyembunyikan penyakitku.
'kau jahat menyembunyikan ini padaku!' raut kekecewaan itu muncul diwajah gadis ini. 'sebenarnya masih ada yang ingin aku tanyakan padamu lagi, rio' kiran mengambil alih pembicaraan.
'ingin bertanya apa? Silahkan' jawab rio.
'bagaimana kamu dengan tari?' tanya kiran datar.
'aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Memang dia menghampiriku, mengantarkan sejuta cinta tapi cintanya tidak cukup menggantikan posisimu. Cintaku terhadapmu begitu besar, dan sulit orang lain merebutnya.
'kau jahat' kata kiran.
'mengapa kau mengatakan seperti itu?' rio balik bertanya dan meminta penjelasan.
'kau memainkan perasaan tari' jawab kiran singkat.
'aku tidak mempermainkannya, aku sudah berusaha jujur padanya. Cinta tak bisa dipaksa, ran'
Rio menjelaskan. Kiran terdiam.
'ran, maukah kau memaafkanku? Jawab ran' rio memohon.
Kiran menganggukan kepalanya, tanda bahwa iya memaafkan lelaki dihadapnya ini. Rio tersenyum bahagia. 'terimakasih ran' ucap rio sembari tersenyum.
'aku percaya perasaan kita berdua sedikit telah pulih' rio mengajak kiran duduk dipelataran dekat danau, disana terlihat indah karena lampu yang begitu cantik menghiasi taman layang-layang ini. Suasananya pun sejuk karena baru saja di siram air dari langit. Mereka berjalan kesana, rio memegang tangan kiran seakan tak ingin kiran pergi.
'ran, apa kamu percaya adanya takdir?' tanya rio.
'aku sangat percaya dengan takdir' kiran menjawab dengan mantapnya.
'kalau begitu, sama denganku' rio tersenyum, tapi senyumnya hanya sesaat. Seketika ia terlihat murung. 'ran kamu taukan, aku sangat menyayangimu dan kau pun tau aku sangat menginginkanmu menjadi milikku. Tapi aku percaya takdir, aku takut takdir tak merestui aku dan kamu bergandeng bersama lagi. Aku takut bila sikapku akan melukaimu lagi karena aku tak mampu melihatmu terus bersedih, terlebih sedihmu karena ulahku. Aku tak ingin menjadi lelaki tak beretika karena terlalu sering menyakitimu, ran. Aku punya sedikit penawaran untukmu ran, kau mau menerimanya? Tanya rio dengan wajah seriusnya.
'penawaran apa?' kiran bertanya singkat, dia tak berani menatap rio.
'kau masih ingat tanggal jadian kita, heem 12 april 2009. Benarkan? Tanya rio. Kiran hanya menganggukan kepalanya. Kiran hanya memikirkan ternyata rio masih mengingat tanggal bersejarah itu. 'kita sangat percaya takdir bukan? Ayo berdiri!' perintah rio. 'kau lihat bintang-bintang itu kiran, mereka sangat indah' rio memegang pundak kiran dengan kedua tangannya, alhasil mereka berhadapan. Rio menarik napas. 'ran, aku mencintaimu tapi aku yakin akan takdir. Kalau seandainya tuhan menakdirkan kita bersama. Kita pasti bersama' rio terdiam sejenak. 'heem, apabila bintang yang indah itu berjumlah 12 sesuai tanggal kita bersama, maka takdir itu berpihak pada kita. Tapi bila tidak, memang kita yang tidak ditakdirkan untuk bersama lagi' rio mengatakan itu sangat berat. 'kau sudah siap, ayo kita hitung bintang itu!' mereka berdua menghitung dengan khusyuknya seolah -olah tak ingin ada bintang yang tertinggal. 1,2,3, dan seterusnya mereka hitung. Hanya ada 11 bintang? Kiran lemas, merasa badannya kekurangan oksigen. 'Benarkah hanya 11?' tanya kiran dalam hati. Sedangkan rio, masih terus menghitung dan mengulang terus menerus hitungannya. Hasilnya tetap sama. Hanya 11. Rio tertunduk, ia pun lemas.
'ran, takdir berkata lain' rio memegang tangan kiran. Kiran menangis. 'jangan menangis ran' bujuk rio. 'aku harus pergi ran, tapi sebelum aku pergi aku boleh memeluk dan mencium keningmu ran? Rio terlihat sedang menahan tangis. Kiran memperbolehkan keinginan rio. Rio langsung memeluk tubuh kiran. Pelukan yang sangat hangat, dan rio tak ingin melepasnya. Rio meneteskan air mata dibalik tubuh kiran. Kiran sudah menangis seakan tak ingin mengakhiri malam ini. Rio mencium kening kiran dengan tulusnya, airmatanya kembali jatuh. Dia memeluk kiran kembali, begitu eratnya. 'ran aku mencintaimu, jaga dirimu baik-baik' rio melepaskan pelukannya. 'aku percaya suatu saat nanti kita akan besua kembali seperti sedia kala, saat kita baru mengenali diri kita sendiri. Walaupun kau hanya persinggahanku saja, tapi kau yang terindah yang pernah ku miliki, aku pergi kiran. Segeralah kau pulang. Sudah malam' rio pergi meninggalkan kiran sendiri. Kiran menangis, sesulit inikah jalan takdirnya. Kiran masih penasaran dengan penghitungan bintang itu. Iya menghitungnya ulang. Dia kaget, 'ya tuhan bintang itu berjumlah 12' kiran kaget, tak percaya. 'Tuhan sebenarnya takdirku dengan rio bisa terjadi kembali. Mengapa ranting pohon cemara itu menutupi bintang harapanku, tuhan. Rioo kembalilah, bintang yang kita nanti telah datang. Dia telah muncul rio, ternyata takdir berpihak pada kita rio' kirana seperti mendapat sambaran petir, dia menyesali penghitungan konyol itu. Ia menangis dan terduduk lemas. 'rio lampu yang terang dihadapku, bintang yang bersinar di malamku, takkan mampu menggantikan sinarmu dalam kehidupanku. Tetaplah menjadi rio abdi pratamaku walaupun sinarmu tak dapatku miliki. Aku percaya takdir kita. Mencintaimu membuatku menyadari hidupku. Minggu besok aku pindah ke medan rio. Kita takkan bertemu lagi. Tuhan jaga cintaku dan jaga titipanku' kiran tersenyum indah.

-the end-
No comments:
Post a Comment