Aku yang kini duduk dipelataran rumah. Sendiri dikeheningnya senja. Hanya ada dedaunan yang menghibur didepanku. Tak ada tawa dan senyum yang aku buat untuk hari ini. Langit ikut merasakan rasa yang berkecambah karena mendungnya. Angin-angin bertiup seakan mereka ingin membawaku terbang jauh dan mengikuti aliran udaranya.
Aku termenung. Untuk saat ini tak ada pikiran yang paling ku pikirkan selain masa depanku. Tapi aku muak mengapa rentetan masalah datang tanpa permisi dan bermusyawarah terlebih dahulu.
Aku memang lemah. Tak bisa menyembunyikan penatku dihadapan khalayak. Aku tersenyum tapi aku tak mampu menahan tusukan mata mencemohku. Aku berusaha menjadi diriku dan tidak memperdulikan apa tanggapan orang tentangku.
Saat ini ayah menghampiriku. Semenjak mamah pergi dengan lelaki lain, ayah adalah ibuku. Hidupku hanya bersama ayah.
"kamu sedang apa sayang?" ayah membelai rambutku.
"yah, mengapa mereka hanya melihatku disisi buruknya aku?"
"putri anak ayah, biarlah orang berkata apa tentangmu, yang terpenting ayah tetap disampingmu" ayah menghapus airmata yang jatuh dipipiku.
"tapi aku tidak kuat yah, mereka melihatku buruk tanpa mereka mengerti mengapa aku melakukan hal ini" aku memeluk ayah, sesosok malaikat yang selalu menemaniku.
"ayah tidak peduli apa kata orang tentangmu, kamu tetap malaikat dan kebanggaan ayah. Tidak ada hal terburuk didirimu. Ayah mengerti put, biarlah orang berkata apa tentangmu. Yang ayah tau kamu yg terbaik. Tidak ada yg pantas menghakimimu selaim ALLAH, sindiran mereka tentangmu hiraukan. Ayah yakin, kamu mempunyai alasan mengapa kamu mengambil jalan seperti ini. Lakukan apa yang membuatmu bahagia, karena ayah tidak bisa sepenuhnya membuatmu bahagia. Jangan menangis, malaikat surgaku!" aku memeluk ayah memakin dalam dan ayah membalas pelukanku.
"aku sangat mencintai ayah. Terima kasih karena Allah telah mengirimkan malaikat untuk menjagaku" ayah hanya mengkecup keningku dan aku tau ayah menangis.

No comments:
Post a Comment