Suamiku...
Betapa kita ingin bersama merajut singgasana yang penuh dengan keindahan dan kita memulai semua dengan cinta kasih meski seluruh dunia menentang kekuatan yang kita bina, ya tapi kau menunjukkan arti besar kehadiranku didepan para penentang.
Suamiku...
Ketika kau benar-benar membuktikan dan kau mengijabku dengan qobul keluargaku. Aku bukan hanya bahagia tapi aku merasa kau hanya satu sampai takdir memisahkan.
Suamiku...
Susah bahagia kita rajut bersama menjadi satu kekokohan keluarga. Kau terindah sepanjang aku mengkokohkan jiwaku untukmu. Entah apa yang harus ku balas untukmu suamiku. Kau tak pernah mengkhianati kepercayaan yang telahku beri. Kau menjaganya hingga kini.
Suamiku...
Berpuluh tahun kita bersama. Membesarkan anak-anak. Tapi satu kejadian membuatku harus memikulnya sendiri.
Suamiku...
Kini kau lemah, aku tak kuasa. Kecelakaan itu membuatmu harus tetap terdiam. Aku rapuh tapi senyummu memberikanku semangat tersendiri. Kau seperti berkata bahwa aku mampu melalui semuanya. Matamu memancarkan bahwa masih ada kau dan kau masih mampu melindungi keluarga kita.
Suamiku...
Aku mengabdi padamu. Walau malam ku jadikan siang, demimu aku berkorban. Tak ada lelah bilaku melihat senyummu.
Suamiku...
Kini 11tahun sudah kau terbaring. Memberikan kisah mendalam untukku. Aku akan tetap setia menjagamu, mendampingimu dan takkan meninggalkanmu.
Suamiku...
Terimakasih telah mengizinkanku mengabdi padamu dan mendampingimu. Bertahanlah, kita masih mempunyai cita-cita bersama. Bertahanlah sayang. Aku menyayangimu bagaimanapun keadaanmu, aku yakin kau merasakannya walau mungkin kau tak menjawab. Hidupku adalah pengabdian untuk suamiku atas izin Allah.

No comments:
Post a Comment